Minggu, 21 Desember 2014

Masih Ada Cinta


       Sepanjang malam Kevin tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya penuh dengan rasa khawatir. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Freya.
          Sesaat setelah mengetahui Freya tak ada dirumahnya, ia memutuskan untuk mencari ke seluruh penjuru komplek perumahan. Tidak gampang. Karena komplek perumahan itu berhektar-hektar luasnya. Bisa saja Freya berada di keramaian seperti di mall, salon, atau restaurant. Bisa juga Freya berada di daerah kesunyian seperti di ruas jalan yang dipenuhi aneka pohon. Kevin tak tau pasti dimana Freya berada. Hanya saja ia tak bisa tinggal diam selama ia merasa tak yakin apakah Freya dalam keadaan baik-baik saja.
          Setelah dua jam mencari, akhirnya Kevin memutuskan untuk pulang dengan kenyataan ia tak mendapatkan hasil apa-apa.
          Ketika sampai dirumah, jam dinding telah menunjukkan pukul empat pagi. Dan rumah masih sepi. Tak seperti yang diharapkan Kevin. Tadinya Kevin berharap, sekembalinya ia dari mencari, ia akan segera menemui Freya berada dirumahnya. Tapi ternyata harapannya kosong. Ia tak mendapati Freya berada di dalam rumahnya. Dalam hati, diam-diam ia berjanji akan segera bersikap baik pada Freya, sesaat setelah ia melihatnya dan ia juga berjanji akan memaafkan Freya dan tidak akan mengungkit-ungkit hal itu lagi.
          Bukankah itu yang diinginkan oleh Freya?
          Kevin menggelengkan kepalanya, menyadari ternyata jauh dilubuk hatinya ia telah memaafkan Freya sedari dulu. Sejujurnya, ia tak pernah merasa marah. Sikap marah yang selama ini ia perlihatkan kepada Freya tidak lain hanyalah sekedar rasa cemburu dan ego. Jauh didalam hatinya menyadari bahwa masih adanya cinta dan rasa sayang yang teramat sangat besar pada wanita berwajah klasik itu. Tak pernah berkurang meski hanya sejentik jari kuku.
                                                          ***
          Jam dinding menunjukkan angka sepuluh pagi ketika terdengar suara pintu depan dibuka seseorang. Tak lama berselang, terdengar langkah kaki seseorang  masuk. Kevin tidak mendengarnya. Ia sedang berada di taman belakang dengan ponsel menempel di telinga. Ia masih mencoba menghubungi Freya. Dan selalau saja, operator mengatakan nomer Freya tidak bisa dihubungi.
          Begitu seseorang itu berdiri dibelakangnya, baru ia sadar dan spontan balik badan. Begitu badannya membalik, santak matanya terbelalak. Perasaannya campur aduk.
          Seseorang yang tak lain adalah Freya itu terlihat menyerigai. Ragu.
          “Darimana saja kamu?” Tanya Kevin getas. Gelomnbang pasang membadai dalam raganya. Bagaimana tidak, lebih dari setengah hari ia mencari, dan sekarang wanita itu muncul dengan wajah tanpa dosa.
          Pelan ia berjalan mendekat. “Kamu tak tahu, semalaman aku mencarimu? Semalaman aku tak bisa berhenti berpikir buruk. Aku bahkan tak bisa memejamkan mata!”. Kini Freya telah teramat sangat dekat dihadapannya. Ditatapnya dengan tatapan tajam.
          Freya takbisa berkutik, tidak juga bisa mengelak. Ia hanya bisa terdiam dan membalas tatapan Kevin dalam. Freya merasa lega. Bahkan dalam keadaan dimarahi Kevin seperti ini, tiba-tiba ia merasa senang. Di balik kemarahan Kevin, ia merasa ada cinta yang kembali. Menjelma menjadi seuntai rasa khawatir. Samar, Freya tersenyum.
          Kevin tak mengerti mengapa Freya justru tersenyum. Freya terlihat percaya diri, berjalan kian mendekatinya. Posisi kepalanya tegak menengadah, mengarah pandang pada bulatan hitam mata Kevin. “maafkan aku Vin!” bisiknya parau.
          Ada jelaga bening tergenang pada bola mata Freya. Jelaga penuh cahaya dan pengharapan. Kevin merasa kehilangan nafas juga kata-kata. Berdekatan dengan Freya sedekat ini membuatnya kehilangan akal. Tak tau banyak hal, selain hanya satu. Ia masih sangat mencintai Freya.
          Direngkuhnya tubuh Freya. Dalam dan semakin. Pelan, ia berbisik “Aku sudah memaafkanmu sedari dulu Frey”
          Ada cahaya lesat dari mata Freya. Beribu bahagia tak terbilang tak mampu ia katakana. Pelan, ia memejamkan mata bersama sebaris kalimat di dalam dadanya. Terimakasih, Vin.

                                                ***