Sepanjang
malam Kevin tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya penuh dengan rasa khawatir.
Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Freya.
Sesaat setelah
mengetahui Freya tak ada dirumahnya, ia memutuskan untuk mencari ke seluruh penjuru
komplek perumahan. Tidak gampang. Karena komplek perumahan itu berhektar-hektar
luasnya. Bisa saja Freya berada di keramaian seperti di mall, salon, atau
restaurant. Bisa juga Freya berada di daerah kesunyian seperti di ruas jalan
yang dipenuhi aneka pohon. Kevin tak tau pasti dimana Freya berada. Hanya saja
ia tak bisa tinggal diam selama ia merasa tak yakin apakah Freya dalam keadaan
baik-baik saja.
Setelah dua jam
mencari, akhirnya Kevin memutuskan untuk pulang dengan kenyataan ia tak
mendapatkan hasil apa-apa.
Ketika sampai
dirumah, jam dinding telah menunjukkan pukul empat pagi. Dan rumah masih sepi.
Tak seperti yang diharapkan Kevin. Tadinya Kevin berharap, sekembalinya ia dari
mencari, ia akan segera menemui Freya berada dirumahnya. Tapi ternyata
harapannya kosong. Ia tak mendapati Freya berada di dalam rumahnya. Dalam hati,
diam-diam ia berjanji akan segera bersikap baik pada Freya, sesaat setelah ia
melihatnya dan ia juga berjanji akan memaafkan Freya dan tidak akan
mengungkit-ungkit hal itu lagi.
Bukankah itu
yang diinginkan oleh Freya?
Kevin
menggelengkan kepalanya, menyadari ternyata jauh dilubuk hatinya ia telah
memaafkan Freya sedari dulu. Sejujurnya, ia tak pernah merasa marah. Sikap
marah yang selama ini ia perlihatkan kepada Freya tidak lain hanyalah sekedar
rasa cemburu dan ego. Jauh didalam hatinya menyadari bahwa masih adanya cinta
dan rasa sayang yang teramat sangat besar pada wanita berwajah klasik itu. Tak
pernah berkurang meski hanya sejentik jari kuku.
***
Jam dinding
menunjukkan angka sepuluh pagi ketika terdengar suara pintu depan dibuka
seseorang. Tak lama berselang, terdengar langkah kaki seseorang masuk. Kevin tidak mendengarnya. Ia sedang
berada di taman belakang dengan ponsel menempel di telinga. Ia masih mencoba
menghubungi Freya. Dan selalau saja, operator mengatakan nomer Freya tidak bisa
dihubungi.
Begitu
seseorang itu berdiri dibelakangnya, baru ia sadar dan spontan balik badan.
Begitu badannya membalik, santak matanya terbelalak. Perasaannya campur aduk.
Seseorang yang
tak lain adalah Freya itu terlihat menyerigai. Ragu.
“Darimana saja
kamu?” Tanya Kevin getas. Gelomnbang pasang membadai dalam raganya. Bagaimana
tidak, lebih dari setengah hari ia mencari, dan sekarang wanita itu muncul
dengan wajah tanpa dosa.
Pelan ia
berjalan mendekat. “Kamu tak tahu, semalaman aku mencarimu? Semalaman aku tak
bisa berhenti berpikir buruk. Aku bahkan tak bisa memejamkan mata!”. Kini Freya
telah teramat sangat dekat dihadapannya. Ditatapnya dengan tatapan tajam.
Freya takbisa
berkutik, tidak juga bisa mengelak. Ia hanya bisa terdiam dan membalas tatapan
Kevin dalam. Freya merasa lega. Bahkan dalam keadaan dimarahi Kevin seperti
ini, tiba-tiba ia merasa senang. Di balik kemarahan Kevin, ia merasa ada cinta
yang kembali. Menjelma menjadi seuntai rasa khawatir. Samar, Freya tersenyum.
Kevin tak
mengerti mengapa Freya justru tersenyum. Freya terlihat percaya diri, berjalan
kian mendekatinya. Posisi kepalanya tegak menengadah, mengarah pandang pada
bulatan hitam mata Kevin. “maafkan aku Vin!” bisiknya parau.
Ada jelaga
bening tergenang pada bola mata Freya. Jelaga penuh cahaya dan pengharapan.
Kevin merasa kehilangan nafas juga kata-kata. Berdekatan dengan Freya sedekat
ini membuatnya kehilangan akal. Tak tau banyak hal, selain hanya satu. Ia masih
sangat mencintai Freya.
Direngkuhnya
tubuh Freya. Dalam dan semakin. Pelan, ia berbisik “Aku sudah memaafkanmu
sedari dulu Frey”
Ada cahaya
lesat dari mata Freya. Beribu bahagia tak terbilang tak mampu ia katakana.
Pelan, ia memejamkan mata bersama sebaris kalimat di dalam dadanya. Terimakasih, Vin.
***